Jawaban

Tidak ada yang ditunggu-tunggu selain jawaban
Tidak ada yang dinanti-nanti selain kepastian
Dan tidak ada yang tidak mungkin bagi ketetapannya

Tapi ada yang bangkit sebelum dipatahkan
Ada yang sadar sebelum dimabukkan
Dan ada yang memberi jawaban sebelum dipertanyakan

Ialah aku dan segenap jiwa yang merenggang nyawa
Aku dan puisiku yang meredup di atas layar kaca
Di mata-mata binal yang senantiasa membaca
Dan bosan dengan kata-kata cinta

Tak mengapa,
Bukankah ketidakpastian adalah sebuah kepastian?
Dan aku tahu itu sejak namanya hilang dari peredaran
Menutup lubang-lubang yang membangkitkan ingatan
Lalu menguburnya dalam-dalam

Ibarat hantu di siang hari
Tak ku sangka dirinya muncul kembali
Berbicara seolah tak pernah ada tragedi
Hari demi hari
Lalu lantak dengan rekayasa mimpi

Aroma tubuh yang menggelitik sepasang hidungku
Kala kau sentuh aku
Yang kian membangkitkan ingatan kala hendak buka baju

Inginku selalu ada dalam kantong jaketmu
Meredam dingin yang amat menusuk
Tapi aku baru tahu ternyata kau hanya menjelma angin dalam halu

πŸ‚πŸ‚πŸ‚

Bertahan Hidup dari Kejahatan

Pinterest

Melihat pandemi sampai saat ini, seperti hendak melihat pulau di tengah perairan terbuka, tak kasat mata dan tak berujung. Kita gak tau pasti sampai kapan akan benar-benar berakhir.

Satu hal ini bisa melahirkan berbagai macam persoalan, seperti yang sudah banyak terjadi di kota-kota besar. Selain mengakibatkan kematian. Angka pengangguran terus melonjak tajam akibat dari PHK massal, ditambah ribuan kampus yang mencetak calon penganggur, seperti yang terakhir kemarin saya rasakan. Sulitnya mencari pekerjaan di tengah pandemi (tanpa orang dalam).

Janji suci pun ikut terancam, dari banyaknya perceraian yang terjadi, yang tidak lain disebabkan oleh hilangnya pekerjaan, yang juga berarti terhentinya proses jalannya keuangan dalam rumah tangga. Tidak ada nafkah sama dengan tidak ada kehidupan.

Satu-satunya cara agar dapat bertahan hidup di tengah pandemi ini adalah dengan bersahabat dengan kejahatan. Mungkin terdengar brutal, tapi itu banyak dilakukan saat sudah tidak ada lagi pilihan.

Meskipun sebenarnya jauh sebelum pandemi menyerang, kejahatan sudah pasti sering kita jumpai di berbagai daerah, bahkan di ruang lingkup sendiri. Tentu kita pernah menyaksikan bagaimana orang-orang merampas yang bukan haknya. Menjual barang dengan harga selangit dengan cara menakut-nakuti. Dan barangkali memang kita senang hidup dari kemalangan orang lain.

Setelah senin pagi tadi aku dikagetkan dengan suara warga yang teriak-teriak “maling” sambil lari-larian, aku sampai loncat dari kasur menuju luar untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Karena jujur baru kali ini aku lihat maling yang berhasil tertangkap oleh warga setempat. Biasanya kan kejadiannya malam, dan adem ayem aja.

Setelah ditelusuri, ternyata malingnya seorang kakek-kakek berambut putih yang mengambil dua dus rokok di sebuah warung. Aku sempat bingung dengan reaksiku sendiri setelah melihat kejadian tersebut.

Pasalnya aku kasihan ketika sosok yang maling tersebut adalah seorang kakek-kakek, tapi bukan berarti aku membenarkan perbuatannya tersebut, perbuatannya tetaplah salah, hanya saja merasa iba.

Seketika aku pun jadi teringat makna lagu dari feast yang berjudul “dapur keluarga” tentang kejahatan yang dilakukan demi menghidupi keluarga, dan demi dapur tetap mengebul.

Dalam maknanya tersebut, mempertanyakan siapakah yang sebenarnya menjadi korban dalam kehilangan (kemalingan) ini? Si maling yang miskin atau si yang punya harta benda?

Karena sering kali kita sulit melihat keadilan ditegakkan, ataukah memang keadilan tidak memihak kepada yang miskin? Apalagi jika melihat dari bentuk kejahatan yang lebih besar, seperti korupsi, penyeludupan uang rakyat. Dan kejahatan-kejahatan sekelas negara pun kita gak menemukan ada hukuman yang setimpal.

Namun saat kejahatan kecil seperti maling, rampok, maling sendal, maling buah karena kelaparan dll, yang baru saja terjadi, tidak jarang kita justru melihat hukuman yang begitu kejam dijatuhkan kepada mereka.

Sekali lagi bukan berarti aku membenarkan perbuatan si maling itu, dan ikutan teriak “maling“. Karena aku pun manusia biasa yang tidak bisa menjamin masa depan akan terbebas dari perbuatan jahat.

Dunia memang tidak adil, namun bukan untuk orang yang kehilangan harta benda karena kemalingan, melainkan untuk orang-orang yang terpaksa bertahan hidup dari kejahatan yang dilakukannya. Demi keluarga tetap kenyang.

Dan kata guru ngajiku, “dunia bukan tempat pembalasan, namun dunia adalah tempatnya bercocok tanam“. Entah dengan cara yang bagaimana kita bercocok tanam, dengan kebaikan atau kejahatan. Setelah itu akhiratlah tempat pembalasan alias memanen hasil dari cocok tanam kita di dunia.

Antara Harapan dan Kematian

pinterest

Ada ketakutan terbesar orang-orang di dunia ini, yaitu kematian. Namun kesiapan orang-orang dalam menghadapinya tidak pernah lebih kuat dari rasa takut itu sendiri. Banyak dari mereka yang ketika sedang dihadapkan oleh suatu persoalan, mereka lebih memilih mati. Iya, mati adalah jalan terakhir yang dipilih seseorang, ketika sudah merasa tidak ada lagi yang bisa diupayakan.

Saya pun pernah terlintas di benak untuk mengakhiri hidup, alasannya sama seperti kebanyakan orang, untuk menghilangkan semua beban hidup. Dengan cara meninggalkan semesta. Tapi lucunya, saya ingin mati tanpa rasa sakit, alias saya tidak ingin bunuh diri.

Bunuh diri itu menyakitkan dan amat menyiksa, bahkan sesekali merepotkan, karena harus menyiapkan tali tambang lalu mengikatnya di tiang, naik ke atas gedung untuk terjun, membeli baygon untuk diminum, dan yang paling penting adalah nyali. Meskipun itu cara klasik untuk bunuh diri, yang sebenarnya masih ada banyak cara lain untuk mati secara tidak terhormat.

Tapi lagi lagi saya selalu takut melakukannya. Dan saya berpikir cepat atau lambat saya akan membunuh diri sendiri secara perlahan. Dengan menangis setiap menjelang tidur, makan tidak teratur, membiarkan asam lambung meningkat, bergadang memikirkan segala hal yang menjengkelkan, dan meratapi semua kegagalan.

Merasa sudah tidak ada lagi yang bisa diperbaiki, tidak ada orang yang benar-benar peduli, merasa menjadi manusia paling tidak berguna di segala aspek kehidupan.

Dan suatu ketika, saya melakukan sebuah perjalanan yang tidak begitu jauh, demi menghilangkan rasa bosan. Dan ketika di tengah perjalanan, kendaraan yang saya tumpangi kehilangan kendali. Dan hampir tergesek oleh dua truk yang saling berlawanan arah.

Namun, nasib baik masih menyertai saya. Saya selamat tanpa ada luka sedikitpun, dan apa yang saya rasakan saat itu? Saya benar-benar merasakan sensasi jiwa yang saling beradu. Jiwa yang pertama berkata bahwa “ini adalah hari terakhirmu, ucapkan semua nama-nama orang yang kamu cintai”. Dan jiwa yang kedua berkata, “demi Tuhan aku tidak ingin mati sekarang, masih banyak hal yang belum ku selesaikan di dunia ini, ayah, ibu mohon jangan menangis jika aku benar-benar mati. Aku tidak ingin menyusahkan mereka, orang-orang yang aku cintai dengan kematianku yang konyol”.

Saat tersadar bahwa kejadian telah berlalu, jantung saya masih terus berdegup kencang, masih tidak percaya bahwa saya masih hidup. Berkali-kali saya menepuk pipi, mencubit tangan, dan menghentakkan kaki di tanah, demi memastikan bahwa saya memang masih hidup.

Ketika sudah sampai di tujuan, saya langsung menghempaskan tubuh saya di bangku sambil mengembuskan napas panjang. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa saya selamat dan masih hidup. Saya tersenyum, merasa sangat bersyukur saat itu.

Ketika sudah sadar sepenuhnya saya baru mengerti bahwa, jiwa untuk bertahan hidup masih lebih kuat dibanding jiwa saya yang menginginkan mati. Ada sebuah tanda yang sebetulnya bisa dijadikan bahan untuk meyakinkan diri sendiri, jika keinginan untuk mati itu muncul di benak.

Tandanya yaitu, kita takut untuk melukai badan kita dengan benda tajam, seperti pisau, mengikat leher dengan tali, terjun dari ketinggian, ataupun meminum racun.

Itu sudah memberikan arti bahwa sebenarnya kita tidak benar-benar ingin mati. Masih ada secercah harapan dalam benak kita untuk melanjutkan hidup, dan yang paling penting bahwa kita masih sayang dan cinta sama diri sendiri, sehingga untuk melukai badan pun kita enggan melakukan. πŸ™‚

Rumah Tanpa Pintu

Pinterest

Beberapa hari belakangan ini, matahari begitu percaya diri menampakkan wajahnya di langit sana. Cahaya teriknya menitikkan bulir-bulir keringat di setiap tubuh yang dibawa bergerak. Aku duduk di atas singgasana sambil menyumpal lubang telingaku dengan earphone. Berselancar di media sosial memang menjadi aktivitas yang menyenangkan tapi sayang menyita banyak waktu.

Tiba-tiba ayah membuka pintu kamarku pelan, dan sedikit memarahiku karena aku yang tidak memenuhi panggilannya. Ya, ternyata dari tadi ayah sudah memanggil dan mengetuk pintu kamarku, tapi sayang earphone yang ku gunakan sangat kedap suara.

Aku langsung loncat dari kasur, dan melempar earphone-ku menuju ruang depan.

Sini duduk!” Ajak ayahku, seperti ada sesuatu penting yang ingin dibicarakan. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang agak serius.

Aku duduk dengan penuh tanda tanya. Dan dugaanku benar. Aku dan ayahku siang itu mendebatkan suatu hal yang sangat kompleks. Lebih tepatnya bukan debat, tapi mencurahkan hati dan pikiran yang selama 10 tahun lebih ini terpendam.

Mau sampai kapan?” Tegas ayahku sambil mengembuskan napas.

Panasnya cuaca siang itu tidak lebih panas dari mataku yang mulai membendung air mata. Aku paham betul apa yang dirasa ayah selama ini, tapi ayah tidak tahu apa yang sebenarnya masih menjadi ganjalanku.

Aku masih sering memberi makan egoku, memupuknya dan merawatnya, hingga ego itu semakin hari semakin menebal dan sulit dihancurkan.

Ayah sempat senang waktu ada di momen itu, ketika kamu dan dia saling menyalurkan kasih sayang, dan kepedulian. Tapi setelah kamu sembuh total, empati itu perlahan memudar. Kamu dan dia kembali ke situasi awal, situasi yang sangat kaku.” Tutur ayah.

Jika memang di momen-momen tertentu itu yang membuat ayah merasa kita bersatu, lantas mengapa aku harus berjuang melawan sakitku?

Tapi aku tau bahwa ini bukan semata-mata salahku. Ini karena,

Karena dia juga yang sudah menebar ketakutan, kebencian, dan pengkhianatan. Sungguh, aku sempat pernah mengeluarkan semua kekuatanku, penerimaanku, termasuk juga penghasilanku walau tak seberapa. Tapi apa yang aku dapat?

Hanya bantingan pintu yang kini sudah patah dari engselnya.

Tapi meskipun begitu, aku sangat berterima kasih kepadanya karena sudah mendampingiku yang terbujur kaku tanpa daya. Terlepas dari apapun yang ada di balik hatinya.

Teruntuk Dia

Dalam sajak tak bertuah ini, ku tuliskan sepenggal kisah anak manusia yang kehilangan kata-kata
Membolak-balikkan kamus tuk mencari kosa kata yang hilang
Menutup kembali dengan resah yang bergumul di dada

Aku duduk di atas muka penuh tanda tanya
Memikirkan seseorang yang menyelinap di tengah kehampaan, memanggil-manggil namaku
Memintaku buatkan sebuah puisi tentangnya

Dia, seseorang dengan mata teduhnya
Datang meremang mengelabui mataku yang buram
Mengaiskan tangannya untukku jadikan genggaman saat tubuh tak mampu lagi menopang

Dia, seorang yang dengan sengaja memecahkan lamunan kala senja mulai menyapa
Di celah kota dia mencari titik temu untuk bersua

Syukurku tak pernah mencari jeda
Saat dia memberiku realita jauh di atas batas bahagia yang ku punya

Aku tak tahu apa ini namanya, ketika melihatnya hanya ada gemuruh di dada
Ketika mengingatnya, aku tak ingin buru-buru melupa

Adakah jawab untuk semua tanyaku?
Sudikah kiranya dia mengalir di jalur darahku, berjalan beriringan denganku
Meski ku tahu, bukan aku yang ia tuju

Namun, Jika puisi hanya sebuah perantara
Aku harus apa agar Tuhan mau menulis nama kita selamanya?

Normal yang Tidak Normal

Ada hal yang membuat orang merasa malu untuk mengakui keadaan yang menimpanya. Salah satu sebabnya adalah lingkungan yang ia tempati tidak mudah menerima kondisi seseorang yang berbeda dengan kebanyakan orang. Padahal ia sendiri sudah tidak lagi menganggap masalahnya adalah masalah besar, namun reaksi masyarakatlah yang membuat masalahnya terlihat besar dan memalukan.

Sebagai contoh, gua hidup di keluarga dengan bapak dan ibu yang jauh terpisah jaraknya, dan mereka berdua memiliki pasangannya masing-masing dan mereka hidup bahagia. Dan itu menurut gua normal-normal aja, walaupun dulu memang sempat kena dampak sikologisnya. So but now I don’t care, and it’s not a problem for me anymore. Ini gua bukan mau curhat, karena masalah ini udah lapuk banget, cuma gua gak suka aja kalau di saat-saat tertentu gua tertekan dengan standar orang lain.

Keluarga yang sempurna bagi kebanyakan orang adalah satu bapak, satu ibu, dan mempunyai anak-anak dengan nilai yang tinggi. WTF, menurut gua kehidupan dalam gambaran mereka itu terlalu polos. Bukan berarti gua gak mau hidup bahagia, semua orang pasti menginginkan kehidupan yang tentram dan damai, tapi gua cuma ingin bicara realita.

Ada begitu banyak orang-orang yang masih bergulat dengan rasa malunya cuma buat mengakui bahwa dia memang memiliki masalah yang sebetulnya biasa saja, tapi jadi masalah banget ketika dia harus berhadapan dengan sekitar dan menerima reaksinya.

Jadi ada banyak banget hal yang sebenarnya normal tapi gak normal menurut orang lain. Seperti kerabat gua yang malu bukan kepalang karena gagal nikah. Yang membuat kerabat gua malu itu adalah reaksi teman-teman dan para tetangganya, mereka dengan segitu teganya mengeluarkan kata-kata tidak senonoh seperti “tuh kan, makanya jangan kesenengan dulu, geer banget si jadi cewek, kamu sih neng kurang cakep dan bla bla…“. Bahkan ada juga toxic positivity kayak “yang sabar ya, berarti dia gak baik buat kamu“.

Dan semua itu berubah seakan menjadi aib yang mesti ditutupi. Padahal gak ada tuh istilah gagal nikah! Masyarakat kita terlalu over reactive ketika melihat ada seorang gadis yang gak jadi nikah, padahal itu juga bagian dari proses, dan sangat normal. Rasa-rasanya kita gak berhak untuk mengatakan bahwa acara pernikahannya tidak berjalan normal, dikarenakan batal.

Urusan finansial pun tidak luput dari ukuran normal dan tidak normal. Ada yang malu karena pekerjaannya di bidang seni, yang penghasilannya tidak menentu bahkan cenderung dianggap pengangguran. Sebab kebanyakan orang cuma memandang pekerjaan yang ideal adalah yang gajinya di atas UMR, pakai jas, sepatu, depan komputer dan di ruangan berAC. Lagi-lagi itu terlalu polos. Orang lain sama sekali gak peduli karya tangan kita, yang mereka inginkan adalah uangnya. Menghasilkan atau tidak?

Soal penyakit yang diderita seseorang juga kadang bisa menjadi suatu aib dan hal yang memalukan untuk diceritakan ke orang lain. Padahal penyakit adalah suatu reaksi alamiah terhadap tubuh kita.

Ketika ada seseorang yang malu untuk mengakui bahwa ia pernah mengidap suatu penyakit, seperti penyakit yang berhubungan dengan organ reproduksi, sehingga membuat orang tersebut tidak percaya diri untuk menikah. Atau bahkan mereka takut jika keluarga pasangan tidak menerimanya. Takut jika sampai tidak memiliki keturunan, dan berbagai macam alasan lainnya.

Dan hal-hal di atas complicated banget buat sebagian besar orang, termasuk aku. Kita memang mesti bisa membuka mata lebar-lebar bahwa tidak semua yang terlihat berbeda itu tidak normal. Itu normal dan terjadi dengan natural. Dan buat mereka-mereka yang berani dengan lantang mengakui dirinya memang berbeda, kamu hebat. Kita memang mesti beradaptasi di lingkungan yang menganggap kita aneh.

Melepaskan Rasa Kepemilikan

Cinta itu tidak harus memiliki” kata-kata yang sering banget diucapkan untuk menasihati orang yang sedang patah. Tapi pada kenyataannya saat kita mencintai seseorang, pasti ada rasa ingin memiliki. Dan itu valid. Tapi wajar gak sih? Ya, wajar aja, cuma kadang kita perlu menaruh batasan antara memiliki dan perasaan itu sendiri.

Berawal dari pengalaman pribadi, saya pernah menyukai seseorang, sampai-sampai saya selalu menunggu update statusnya di media sosial. Buang-buang waktu banget sih sebenernya, tapi ya gimana, namanya juga lagi jatuh cinta. Dan yang lebih parahnya, saya pernah stalking instagram dia buat mencari tau, siapa saja yang dia follow, sampai segitunya. Hingga akhirnya ambisi untuk memilikinya semakin menjadi-jadi.

Ketika yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan, patah hati dan kecewa gak bisa dihindari lagi. Seseorang yang saya sukai ternyata dia juga menyukai orang lain, yang jelas bukan saya orangnya. Sedih? Pasti, insekyur? Iya. Tapi itu respon yang normal saat cinta bertepuk sebelah tangan.

Karena terus-terusan mencari tau tentangnya cuma bikin hati perih, saya coba untuk mute notifikasi postingan maupun storynya dari beranda saya, namun ternyata itu belum cukup buat saya, akhirnya dengan terpaksa saya unfollow akunnya. Dan hilang sudah jejaknya perlahan dari pikiran saya.

Saat itu saya menemukan sebuah artikel tentang melepaskan, dan banyak banget yang dibahas di sana. Mulai dari melepaskan yang sifatnya batin, sampai melepaskan hal-hal yang bersifat material, seperti melepaskan barang koleksi kesayangan. Dan saya merasa ada kecocokan setelah membaca artikelnya.

Sejatinya kita memang gak pernah memiliki apa-apa, rasa memiliki dibangun karena perasaan itu sendiri. Saat kita mengidam-idamkan sesuatu dan kita mendapatkannya, naluri kita akan merespon untuk menjaga dan merawatnya dengan sebaik mungkin. Dan untuk menghindari kehilangan, kita akan membuat tanda atau label dengan nama kita sendiri, dan dari situlah muncul rasa kepemilikan.

Memiliki akan terasa kenikmatannya, saat yang kita miliki ada dalam dekapan kita, tapi akan menjadi terasa sakit saat apa-apa yang kita miliki hilang dan lenyap dalam sekejap. Kita nyaris lupa bahwa ada yang namanya batasan dalam memiliki, jika sudah tiba watunya, Tuhan tak akan segan-segan menariknya dari dekapan kita.

Dari situlah saya belajar bahwa tidak semua hal akan menjadi milik kita, mungkin kita akan dipertemukan dengan apa-apa yang sudah menjadi takdir kita kelak, tapi mengikatnya bukan cara yang efektif jika kita ingin hidup dalam ketenangan. Dan melepaskan adalah kunci dari kedamaian itu sendiri.

Melepaskan kepemilikan memang bukan sesuatu yang mudah dilakukan, akan ada banyak sekali pertanyaan yang bermunculan saat ingin melepaskan. “Bagaimana kalau dia berubah pikiran?”, “gimana kalau dia gak jadi nikah?”, “gimana kalau suatu saat aku butuh lagi?” Dan gimana-gimana lainnya. Tapi ujung-ujungnya semua pertanyaan itu cuma ada dalam pikiran kita, dan gak beneran terjadi.

Terlalu banyak pertimbangan yang menjadi hambatan seseorang untuk melepaskan sesuatu. Tapi saat kita mau mempelajari dan mencari tau apa yang akan kita rasakan ketika berhasil melepas, justru akan membuat kita berpikir sebaliknya “kenapa gak dari dulu aja aku begini”.

Hidup menjadi lebih damai, tentram, dan berkesadaran. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi seperti saat kita masih merasa memiliki sesuatu, sebab kita tidak lagi direpotkan dengan aktivitas yang menyita waktu. Kita cenderung fokus pada apa yang ada di diri kita, di sekitar kita, dan hal yang sedang terjadi saat itu.

Karena kepemilikan terhadap sesuatu hanya akan membuat kita jauh dari hati yang tulus dan lemah lembut, juga menjauhkan kita dari hidup penuh kesadaran.

Oh Pak Sapardi, Do’a Kami Kirim dari Sini

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat, diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Sepenggal lirik puisi yang kau buat dengan puitis, menjadi semakin sempurna saat disampaikan dengan nada yang hampir setiap sore ku nikmati.

Oh Pak Sapardi
Aku tahu engkau tak ingin dikenang sebagai sosok
Hanya karya-karya yang ingin kau tampilkan di hari esok
.

Oh Pak Sapardi
Aku juga tahu karyamu bukan hanya puisi
Tapi juga nonfiksi, esai, dan opini
Bahkan sesekali kau juga menulis tentang ayat-ayat api
.

Oh Pak Sapardi
Jika dari W.S. Rendra kau belajar tentang puisi yang sederhana
Di sini aku juga belajar darimu tentang sajak yang memesona
.

Oh Pak Sapardi
Meski orang-orang mengenalmu dengan sajak-sajak cinta yang amat picisan
Di balik itu engkau menyimpan banyak sekali karya-karya yang disamarkan
.

Oh Pak Sapardi
Melihat di hari-hari terakhirmu mengabdi, kau tetap melahirkan segudang karya yang mengguncang jagat sastra
Aku jadi malu, saat tahu usiaku yang tak serenta engkau, bermimpi menjadi penerus jejakmu
Ketika melirik tulisanku yang tak kunjung tamat, terbengkalai kehilangan nyawa di tengah jalan
.

Oh Pak Sapardi
Aku jadi ingat dua tahun lalu, puisiku yang tak begitu bagus bisa bersanding dengan puisimu dalam buku
Sungguh suatu kehormatan untukku dan kawan-kawanku
.

Oh Pak Sapardi
Aku ingin tenggelam bersama sajak-sajak hangatmu, sehangat kopi yang ku minum saat hujan turun di bulan juni lalu
Agar aku bisa berdiskusi denganmu lewat kata yang tak sempat diucapkan langit yang menjadikanmu tiada
.

Oh Pak Sapardi
Doa kami kirim dari sini
.

190720

Syukur dan Insekyur Dengan Jujur

Pinterest

Sering banget gak sih kita denger omongan “jangan suka buang-buang makanan, di luar sana masih banyak orang-orang yang gak bisa makan kayak kita” nah lantas kita jadi mudah bersyukur saat tahu bahwa ternyata masih banyak orang yang gak bisa makan enak setiap harinya.

Sebenarnya gak ada yang salah sih dari ungkapan tersebut, cuma yang jadi pembahasan dalam tulisan kali ini, Apakah dengan melihat penderitaan orang lain kita baru bisa bersyukur?

Jawab dengan jujur.

Saya jawab iya, karena saya juga sering banget denger perkataan tersebut dari orang tua kita sendiri, namun seiring banyaknya pertanyaan yang muncul di benak, saya merasa jadi orang yang paling kejam di dunia, karena baru bisa bersyukur saat melihat orang lain yang hidupnya lebih mengenaskan dari saya.

Namun sekarang saya paham bahwa bersyukur dengan jujur itu jauh lebih nikmat ketimbang harus mengingat penderitaan orang lain terlebih dahulu, paling nggak kita bisa membandingkannya dengan diri kita di masa lalu, bukan dengan orang lain, karena jelas itu beda banget sih.

Sebenarnya praktik kayak gini banyak banget dan sering kita jumpain dalam kehidupan sehari-hari. Ketika bersyukur perlu memiliki sebab dan alasan yang terdapat di luar diri sendiri atau dari sisi eksternal. Sedangkan bersyukur gak perlu dengan melihat keluar, cukup melihat diri sendiri, mengakui kekurangan, dan tetap fokus pada sesuatu yang sudah ada. Itu bisa melahirkan rasa syukur yang jujur dan tulus.

Berbeda lagi ceritanya saat yang kita lihat adalah sebaliknya, kita tiba-tiba merasa insecure ketika melihat orang lain yang hidupnya lebih enak dari hidup kita. Entah yang dilihat dari sisi finansialnya, pasangannya, atau pendidikannya. Semua itu bisa menjadi alasan kuat seseorang merasa dirinya inferior, terkucilkan, dan gak nyaman. Akhirnya yang terjadi justru sebaliknya, bukan bersyukur, melainkan insekyur.

Dua-duanya memang kurang tepat aja. Pertama, kita gak bisa menjadikan penderitaan dan kesedihan orang lain sebagai alasan atau sebab kita bersyukur, dan yang kedua, kita juga gak bisa menjadikan keberlimpahan dan kenikmatan hidup orang lain sebagai alasan dan sebab kita jadi insekyur.

Ini pernah terjadi di kehidupan nyata. Ada seorang perempuan dan laki-laki yang sama-sama sedang patah hati alias baru putus dari pacarnya masing-masing. Dan suatu ketika si perempuan itu melihat mantan pacarnya itu jalan sama kekasih barunya, yang mana kekasih baru mantannya itu keliatan gak secantik dirinya, dan akhirnya yang tadinya si perempuan itu sedih, malah berubah jadi senang, karena melihat pacar baru mantannya lebih jelek dibanding si perempuan itu.

Sementara yang laki-laki bertemu mantan pacarnya gandengan dengan cowok lain yang lebih maco, ganteng, dan tajir. Akhirnya si laki-laki ini jadi setres, cemburu, insekyur dan kehilangan kepercayaan dirinya untuk mencoba dekat lagi dengan perempuan lain.

Padahal bisa saja laki-laki tersebut mengikhlaskan dan tetap bersyukur karena pilihannya sudah terfilter secara otomatis, dan mencoba berpikir bahwa yang akan bersanding dengannya hanyalah orang tulus tidak melihat dari segi apapun dalam dirinya.

Maka untuk menambah rasa syukur, kita hanya perlu mengamati setiap jengkal yang pernah kita lalui, sebuah proses kecil dalam hidup yang berjalan pelan namun pasti, itu yang layak kita syukuri. Dari kita bangun tidur, membuka mata, lalu menghirup udara pagi yang segar, itu pun cukup untuk disyukuri lebih dalam.

Sebab, tidak ada satu pun penderitaan dan kesedihan orang lain yang membuat kita merasa bersyukur, pun tak ada kenikmatan dan kebahagiaan orang lain yang membuat kita jadi merasa insekyur.😊

Secangkir Jahe Buatan Bapak

Pagi itu,
Ketika sinar matahari menyerobot masuk ke dalam kamar
Menerangi tembok yang mulai memudar
Aku terbangun dengan dada yang sesak, diiringi napas yang memburu udara
Leherku tercekat oleh dahak yang mengikat dinding kerongkongan

Oh Tuhan, sesak sekali rasanya.
Lubang hidungku yang tersumbat sebelah, mengajakku bertamasya keliling rumah

Aroma jahe? Ya benar sekali.
Hidungku kembang kempis menghirup aroma jahe yang menenangkan itu. Dia berhasil menembus rintangan di hidungku yang semakin memerah karena sering ku cubit.

Ceklek…
Bapakku masuk ke kamar dengan membawa secangkir jahe di tangannya
Oh, rupanya bapakku yang meracuni hidungku dengan aroma jahe yang menggelitik itu.

Hati-hati masih panas” kata bapak sambil menaruh cangkirnya di atas meja belajarku.
Hmm, Harum banget” ujarku yang langsung menyerobot cangkir dan menghirupnya dalam-dalam.
Minumnya pelan-pelan
Iya pa
Hidungku yang tadinya mampet seperti selokan depan rumah, jadi lebih plong dan lega, hanya dengan mencium aromanya.

Aromanya yang lembut berhasil membuat hidungku tunduk
Saat menyeruputnya, seketika aku merasakan sensasi yang begitu menakjubkan, seperti berada di tengah-tengah kebun lavender sambil menari-nari dengan selendang ungu.

Dan saat air itu mengalir membasahi kerongkongan, aku seperti menaiki spiral terpanjang di dunia. Terasa pekat kehangatan yang menjalar merasuki setiap pori-pori dalam tubuh.

Perlahan aliran keringat mengalir di jalur keningku, membasahi wajahku yang kusut, karena semalaman bercumbu dengan bantal.

Luar biasa memang jahe buatan bapakku. Racikan jahe di pagi hari beserta potongan-potongannya adalah kombinasi yang indah. Mungkin tampilannya biasa, bukan seperti kopi buatan para barista. Tidak aesthetic tapi cukup menagih.

Sebuah bahasa cinta yang ku dapatkan di awal pagi, karena telah bertekad menyalakan lampu yang telah redup, memulai kembali semua yang tertunda, dan menikmati setiap prosesnya.

Barangkali kisah pagi ini terdengar lebay dan remeh, ya mungkin iya, tapi aku tidak ingin menyesal di kemudian hari karena hal-hal sepele, sesepele aku membiarkan sebuah proses kecil yang berjalan setiap hari, dan aku ingin menghargainya sekecil apapun itu.

Lalu, apa hal kecil yang kau syukuri hari ini? 😊

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai